THE POLICE OFFICER'S WIFE / DIE FRAU DES POLIZISTEN : SISI KELAM KEHIDUPAN ISTRI PENJAGA KEAMANAN




Saya punya teman dan tetangga yang berprofesi sebagai polisi. Mengamati dinamika kehidupannya, sepertinya berat ya tanggung jawabnya. Jarang ada di rumah, bekerja dihadapkan dengan kejenuhan, kematian dan ancaman, masih diperparah dengan citra institusi yang bisa dibilang tidaklah bagus di mata masyarakat. Kalau memahami secara personal, tanpa dikaitkan dengan seragam dan institusinya, mereka itu nyatanya seperti manusia kebanyakan. Yang kebetulan berkomitmen untuk menjadi seorang polisi. Mereka bisa menjadi orang - orang yang hebat.
Tapi, tahu gak siapa yang lebih hebat dari seorang polisi? Istri polisi. Ini dari pengamatan saya, yang mungkin banget tidak tepat. Menjadi istri seorang polisi itu tidaklah mudah, harus berpondasikan hati dan mental yang kuat. Khususnya buat mereka yang memilih berperan sebagai ibu rumah tangga murni. Di rumah mengurus rumah, mengurus anak, sering ditinggal suami dan senantiasa diselimuti kecemasan akan keselamatan istrinya. Istri polisi, sosok yang menarik yang sayangnya belum banyak film yang mengulik dinamika hidup dan hatinya. Melihat peluang kisah ini, Philip Groning mencoba menuturkan setitik kisah istri seorang polisi lewat The Police Officer's Wife / Die Frau des Polizisten.
Dengan durasi hampir 3 jam, film ini bukanlah sebuah film yang mudah dinikmati. Kisahnya dipenggal - penggal dalam berpuluh - puluh bab yang terkadang ada bab yang memancing interpretasi mendalam karena hadirkan visual yang seakan berarti, namun apakah mungkin memang tidak berarti? Mengalir pelan, kalau tidak bermodalkan kesabaran lebih, film ini bisa membuat jemu. Namun, apabila penonton berkenan bersabar, maka film ini akan menggedor hati kamu. Makin ke belakang makin keras gedorannya. Saya sampai tidak tega melihatnya.
The Police Officer's Wife menangkap sisi muram wanita yang menjadi istri seorang polisi. Ada kekerasan batin dan fisik yang diperoleh Christine (Alexandra Finder) dari suaminya, Uwe (David Zimmerschied). Berangkat dari isu KDRT, film ini mencoba mempresentasikan sebuah gesekan antara dua dunia yang berbeda. Ada dunia maskulin. Ada dunia feminin. Ada yang memegang kuasa atas ekonomi, ada yang lemah posisi secara ekonomi. Ada kepala rumah tangga. Ada ibu rumah tangga. Tidak secara gamblang, namun kita bisa merasakannya. Dengan sajian visual yang mengesankan serta teror psikologis yang terpancar, film ini berpotensi memberikan sajian yang depresif. Ironi terdalam di film ini hadir saat sosok yang berperan memberi keamanan, gagal memberikan rasa aman kepada orang terdekatnya. Meski film ini memberikan gambaran yang jauh dari positif, saya yakin di luar sana banyak wanita yang menjalankan perannya sebagai suami seorang polisi dengan bahagia.

0 comments:

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST