20 FILM MENGESANKAN 2014

Banyak
film bagus yang dirilis, namun tidak semua mampu merangsang untuk
menontonnya lagi. Banyak film yang merangsang untuk ditonton lagi, namun
belum tentu film tersebut bagus secara kualitas. Berangkat dari
pemikiran tersebut, saya mencoba mencari jalan tengah dalam menentukan
film – film yang masuk daftar “mengesankan” versi blog Movievora. Jadi,
film – film yang saya pilih dibawah ini adalah film – flm yang saya
anggap bagus dan film – film yang ketika saya ditantang untuk
menontonnya lagi akan saya jawab dengan sigap, “OK!”

 
Ini film yang berhasil memporak – porandakan persepsi saya ketika menontonnya. Ketika awalnya diarahkan menuju ke A…eh ternyata kok B. Jadi malu sendiri karena sok tahu. Sebuah gabungan yang memuaskan akan horror, misteri, ketegangan dan komedi. 

Saya terjebak dengan film ini. Pertama kalinya menonton film ini, saya dibuat ngeri hingga ngomel – ngomel ogah kalau disuruh nonton lagi. Dibayarin sekalipun. Namun ketika Si Anak begitu menyukai film ini, mau tidak mau saya harus menontonnya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi……Hingga hilang rasa ngeri yang sempat menghinggapi. Tapi Filmnya memang bagus sih, ditonton berulang - ulang juga tetap menarik. Mempunyai banyak lapisan yang menarik buat dikulik dan isu yang diusung masih bakal relevan dengan kondisi di masa depan.

Film ini bagi saya berfungsi sebagai cermin sekaligus pagar. Terasa dekat karena ada bagian – bagian yang terwakili. Film yang membuat saya merasa ditelanjangi. Amit – amit jabang bayi semoga dijauhkan dengan apa yang dialami oleh pasangan utama dalam film ini.
 
Kreativitas membuat kisah pertarungan antar kelas yang sudah banyak diangkat menjadi sebuah tontonan yang mencengangkan, mengeyangkan sekaligus bergizi pantas diberi apresiasi lebih. Muatan kritikannya tidak menghambat film ini untuk terus melaju menebarkan sensasi ketegangan yang tak pernah basi.

Saya tercengang dengan kelihaian creator film ini meramu banyak bahan dalam satu wadah bernama “home invasion”. Jarang saya menjumpai film sejenis dengan ornamen semeriah ini namun rasanya bisa terasa pas dan tepat. Dan bagian akhir ini film ini sungguh juara. Musik, setting dan eksekusinya membuat saya keplok – keplok.
 
Surat cinta untuk sinema yang sinting dari Sion Sono. Benar – benar sinting.
 
Sebagai seorang suami dan ayah dengan hasil yang pas – pasan, film ini bukanlah film thriller biasa bagi saya. Sedikit banyak membuat saya berkaca. Ada sebuah pembelajaran karakter didalamnya yang disampaikan dengan tanpa berbelit sekaligus seru berbalutkan satire yang bikin nyengir,
 
Mengingatkan saya pada No Man’s Land. Ada gugatan yang disampaikan dengan lucu namun menampar, bijak tanpa terasa menyebalkan. Film untuk mereka yang muak dengan perseteruan, namun tidak sampai misuh - misuh kasar.
 
Ilo Ilo bermodalkan kisah sederhana dengan lapisan yang cukup kompleks. Sebuah keberhasilan yang mengesankan ketika bisa menyampaikan semua lapisan tersebut dalam sebuah sajian audio visual yang kuat dan memikat emosi.
 
Seperti layaknya gulungan benang rajut, film ini secara perlahan mencoba mengurai kekerasan hingga ke ujung pangkalnya. Film yang perlu disimak oleh semua anggota keluarga, terutama yang muda, dan tentu saja harus dengan pendampingan orang dewasa karena film ini bisa sangat provokatif kalau tidak diresapi dengan bijak. Tidak berusaha mencari siapa yang salah dan tak juga membenarkan apa yang tak perlu dibenarkan. Mencoba memaparkan demi memancing penyelesaian.
 
Everything is awesome!!!
 
Bagaimana bisa melupakan film yang didalamnya penuh dengan imaji – imaji yang mengejutkan? Mencengangkan.
 
Seperti alat music drum, film ini terasa menderu – deru di kalbu. Menghentak – hentak namun tak jarang hadir juga secara lembut mendayu – dayu. Pertarungan ego yang brutal demi sebuah harmonisasi nan cantik. 

Bukan film yang nyaman buat ditonton, namun film ini sukses meninggalkan kesan mendalam dalam hati saya dengan keganjilan visual, kisah dan musiknya. Menghantui.
 
Jarang sebuah film yang mampu membuat saya ingin berteriak “I FEEL YOU!!!” ketika menontonnya. Locke menjadi salah satu dari yang tidak banyak tadi. Emosi yang terpapar dilayar begitu memancar kuat meski dalam ruang dan waktu yang terbatas. Ibarat sebuah pembalut tipis berdaya serap tinggi. Film mini dengan hasil dan dampak maksi.
 
Sesuai judulnya film ini benar – benar tentang gravitasi. Sajian visual yang mencengangkan menghantarkan kisah yang terkesan sederhana namun menyiratkan banyak hal. Sebuah pencapaian sinematik yang wajib disimak.


Jujur, ini bukanlah film yang mudah saya nikmati. Dialog – dialog panjangnya menuntut atensi lebih yang terkadang melelahkan. Yang mengherankan, hal ini bukannya membuat saya mengemohinya, justru makin merangsang saya untuk terus menyimaknya. Ini yang membuat saya kagum. Dari dialog – dialog antar karakternya menghadirkan daya tarik tersendiri. Tidak terpapar secara nyata, namun menyiratkan sebuah pergesekan hebat antar mereka. Merangsang saya untuk menganalisa dan meresapinya. Durasi yang panjang bukanlah hambatan untuk kembali menyimaknya kedepannya.

Film ini mengingatkan kepada kita betapa kisah – kisah yang berasal dari jaman dahulu mempunyai keindahan sekaligus kebijakan tersendiri. Dua hal tersebut makin mengesankan ketika dipresentasikan lewat goresan kanvas dari sang ahli. Sebuah kolaborasi yang susah diabaikan dan pantas dinikmati sampai kapanpun.

 Salah
satu film paling aktual tahun 2014 kemarin. Kagum saya akan film ini
selain karena keberhasilan mengangkat persoalan masyarakat sakit terkini
juga karena bagaimana film ini menghadirkan banyak ornamen yang digarap
dan disajikan secara pas dan tepat. Ornamen – ornamen yang bukanlah
sekedar tempelan, tapi saling menguatkan. Dan bagaimana film ini
menghadirkan referensi – referensi literatur produk jaman dulu makin
menambah kekaguman saya akan film ini.
 


Film
nyeni tak harus berbelit dan melelahkan. Dengan durasi yang bisa
dibilang sangat bersahabat, film ini memberikan sajian yang padat dalam
balutan visual yang kuat meski dengan polesan warna yang kurang memikat
buat mata. Sebuah karya yang materinya bisa dinikmati kapan saja. Untuk
selamanya.
 

4 comments:

gunawan triantoro mengatakan...

Thanks..... beberapa bisa jadi pilihan untuk ditonton. Kalau ada full review nya mungkin akan lebih manteb ya mas hehe... penasaran dengan 'aire libre' dan 'cheap thrills' :)

Reino Ezra mengatakan...

banyak Jepangnya ya...

Soeby mengatakan...

@Gunawan : Terima kasih juga kesetiaannya berkunjung. pengennya gitu sih. tapi suka kalah sama prioritas yang lain. Ini aja ngorbanin yang lain itu :)

Soeby mengatakan...

@Reino : pengen ke Jepang kayak Kak Reino....itu kalo listnya masih diolor-olor, Like Fater, Like Son bakalan masuk. bagus-bagus film dari Jepang. Yang sinting aja bagus, apalagi yang normal ;)

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST