PARADISE : LOVE



Paradise : Love adalah rilisan pertama dari Paradise Trilogy yang merupakan proyek dari Ulrich Seidl. Trilogi ini memfokuskan pada kisah tiga perempuan yang mempunyai hubungan kekerabatan dalam kaitannya dengan pencarian akan sesuatu di negeri Kenya. Paradise : Love akan segera diikuti dengan Paradise : Faith dan Paradise : Hope. Sudah bisa menebak kan sesuatu yang dicari oleh ketiga perempuan tersebut.
Paradise : Love menceritakan seorang perempuan paruh baya, Teresa (Margarethe Tiesel) yang menuju Kenya demi mencari kepuasan seksual alias wisata sex. Di negeri asing yang jauh dari tempat dimana kerabatnya tinggal, Teresa bisa bebas melakukan petualangan tanpa cemas mendapat cemoohan. Yang penting happy. Entah ada pengaruhnya atau tidak terhadap tingkat kepuasan, yang pasti pria yang dia pilih memiliki terong dengan ukuran yang bisalah dikatakan BESAR. Para pria dengan terong hitam tersebut tidak bisa disebut sebagai pelacur/gigolo karena tak ada harga yang ditetapkan ataupun dikenakan. Dan mereka secara lisan juga menawarkan cinta. Bukan seks.


Tapi, di dunia yang memuja materialisme seperti sekarang ini apa ada yang benar - benar gratis. Para lelaki itu mungkin tidak mengenakan harga palayanan, namun bayaran tetap dikenakan dalam bentuk lain dengan dalih sosial. Disinilah Paradie : Love ini tidak sekedar memaparkan film tentang hore - hore para tante kesepian. Ada sebuah sentilan akan hubungan warga kulit putih dengan mereka yang berkulit berwarna (hitam). Sentilan ini nyatanya terasa sebagai sebuah tamparan. Tidak hanya bagi satu pihak saja, namun terhadap kedua pihak sekaligus. 
Paradise : Love ini menghadirkan sebuah kegetiran yang bagusnya disajikan dengan tidak secara frontal. Bahkan secara komedik yang dampaknya justru lebih mengena. Kesan ironi langsung tampak ketika sutradara secara tak malu - malu menelanjangi tokoh utamanya yang terus terang bermodalkan body yang jauh dari ideal menurut majalah - majalah life style terkini. Ironi selanjutnya muncul ketika ada "Love' yang dipertukarkan dan dijasakan. Dan ironi paling kejam muncul ketika terselip emosi kesepian dan kesendirian saat berwisata. Teresa di negeri asing merasa terbuang dan terabaikan. Makin paham saya kenapa ada istilah "negari asing".


Buat yang biasa menikmati film dengan tampilan aktor/aktris yang yahud, Paradise : Love ini mungkin tidak akan menarik hati. Yang ada, film ini banyak mengumbar body - body tua yang berlemak dan menggelambir. Dari situ sebenarnya bisa dilihat kalau Ulrich Seidl berniat jujur dengan realita yang ada. Kejujuran memang terkadang bikin jengah. Kejujuran Ulrich Seidl, kalau kita baca proses pembuatannya, makin kentara dengan fakta kalau tak ada skrip yang benar - benar jadi ketika pembuatannya. Semuanya serba mengalir apa adanya. Yang mengalir tersebut belum tentu tidak apik. Lihat saja percakapan Teresa dengan pria Kenya di ranjang membahas apa yang tubuhnya mau. Terasa vulgar namun natural.
Ketika menyaksikan film ini, muncul pertanyaan dalam diri saya. Dari banyak negara, mengapa Kenya yang dipilih ya. Kok bukan Indonesia, terutama Bali gitu yang banyak cowboys-nya. Pantainya juga indah - indah. Setelah melakukan penelusuran, saya menemukan sebuah tulisan di laman Reuters yang disitu ditulis kalau "as many as one in five single women visiting from rich countries are in search of sex.
Saya berani mengatakan kalau Paradise : Love adalah sebuah film yang bagus. Tak sabar rasanya menonton Paradise : Faith dan Paradise Hope.



2 comments:

Reino Ezra mengatakan...

terong?

Movievora mengatakan...

@reino : Ya. Terong.

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST