LINCOLN



Menonton film Lincoln itu adalah sebuah perjuangan. Sampai dengan menit ke 30 saya dibuat tercengoh – cengoh karena tidak paham dengan apa yang tersaji di layar. Maklum, intelenjensia saya sangatlah terbatas. Hal ini menandakan saya harus berhenti dulu dan mencari landasan yang kuat untuk menontonnya kembali. Masih ada 2 jam tersisa yang harus dihabiskan. Saya tidak boleh menyerah! Landasan tersebut adalah mempelajari sejarah. Sayapun kemudian berselancar mencari informasi tentang Perang Sipil yang menjadi setting film Lincoln. Setelah merasa cukup membangun pondasi, sayapun merasa yakin akan kuat untuk menyelesaikan film Lincoln.
Menonton film Lincoln itu adalah sebuah perjuangan. Dalam diri saya sudah terbentuk sikap, susah menikmati film yang actor / aktrisnya tidak sedap dipandang mata. Dan Lincoln ini dengan egoisnya menampilkan wajah – wajah dengan dandanan dan tata busana yang bagi saya kurang menarik. Tuwir – tuwir lagi. Belum lagi penampakan Tommy Lee Jones yang memberikan suasana horror tersendiri. Kehadiran Joseph Gordon Levitt pun gagal mencerahkan penglihatan saya. Maka, saya harus berjuang mencari alasan agar bisa menyelesaikan film ini. Dan alasan itu adalah : “hey,ini filmnya Steven Spielberg yang banyak dapat nomiansi Oscar loh. Dan Lincoln kan salah satu tokoh penting di Amerika sana. Dan kalau tak ada aksi dari Lincoln, yakin bakal ada Presiden Obama? Kalau gak ada Obama, Damian Dematra bikin film apa dong?”


Lincoln, sesuai judulnya mengangkat kisah daripada Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat yang ke 16. Sosok yang berperan penting dalam hadirnya Amandemen Ketiga Belas yang berjasa besar dalam sejarah kesetaraan manusia di Amerika Serikat sana. Bisa jadi, amandemen ini juga menginspirasi perjuangan hak asasi manusia akan kesetaraan posisi di muka bumi ini, tanpa memandang kulit dan kelamin. Lincoln yang diperankan dengan sangat bagus oleh Daniel Day – Lewis dan diarahkan oleh Steven Spielberg ini memfokuskan pada perjuangan Lincoln dan kroninya demi golnya Amandemen Ketiga Belas. Ada lobi sana sini, debat sana debat sini dan perang sana, perang sini.
Tak pelak Lincoln menjadi sebuah sajian yang mengusung tema politik yang seringnya dihindari oleh banyak penonton (disini). Dengan balutan tema politik yang pekat dan seliweran actor/aktris yang kurang sedap di pandang mata, saya sanksi bakal banyak penonton (disini) yang bisa tahan menontonnya tanpa terkapar atau merasa bosan. Tapi……nyatanya Lincoln ini makin ke belakang makin menarik loh. Segala lobi dan perdebatan serta ketegangan di dalam rumah tangga Lincoln di tengah Perang Sipil yang kejam, makin mendekati akhir semakin memberikan sensasi ketegangan tersendiri. Apalagi ketika harus dilakukan pemungutan suara. Dan dengan cerdiknya, ditengah ketegangan tersebut, Steven Spielberg menyelipkan satu humor mungil yang mampu memberikan efek dahsyat dalam mencairkan suasana. Semua hal tersebut masih didukung dengan sajian gambar yang apik. Janusz Kaminski gituh. Saya paling suka ketika Lincoln membuka jendela paska pemungutan suara.


Menonton film Lincoln itu aalah sebuah perjuangan, apalagi setiap muncul karakter yang dperankan Sally Field muncul. Ingin rasanya saya mengacak – acak rambutnya. Namun jangan lekas menyerah ya. Apalagi yang masih muda – muda itu *pecut* Perjuangan kamu rasanya tak akan sia – sia. Kalaupun kamu tidak merasa terhibur, meski harusnya kamu menikmati 40 menit terakhir yang memikat, Lincoln ini jauh lebih mengasyikkan lho daripada harus membuka diktat sejarah, tata Negara atau ilmu pemerintahan. Ada banyak pengetahuan yang bisa kamu dapat. Plus kalau kamu tertarik menjadi seorang politikus ulung kamu bisa belajar dari sosok Lincoln yang sadar betul kalau penguasaan akan bahasa dan cara penyampaiannya itu sangatlah penting bagi seorang politikus. Dan apa kamu tega melewatkan penampilan dahsyat dari seorang Daniel Day – Lewis. Belum lagi dukungan bintang – bintang keren lainnya seperti Hal Halbrook, John Hawkes, David Straithairn, James Spader, Tim Blake Nelson, Jackie Earle Haley, Lukas Haas dan lain – lain. Eh, pada kenal gak sih. Saya sih tahu nama – nama itu, tapi kesulitan mengenalinya di layar. :D

3 comments:

Luthfi Prasetya Putra mengatakan...

Gue masih terseok-seok nonton film ini. Masih belum move on dari satu jam pertama. Bingung, mereka sebenernya ngobrolin apa, hmmm.

Reino Ezra mengatakan...

yang versi bioskop sini lebih jelas, ada tambahan prolognya *kunyah popkron*

Movievora mengatakan...

@Luthfi : coba ditonton lagi, seru kok filmnya :)

@Reino_ezra : Oh, kita tinggal di wilayah yang berbeda. Di Bioskop saya, gak ada prolognya. maklum, bioskop indie

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST