IO SONO L’AMORE ( I AM LOVE )


Mari bicara tentang cinta. Satu topic yang tak pernah ada basinya buat dibahas. I Am Love kembali mengangkat isu seputar cinta dengan sangat memikat. Dalam I Am Love, Tilda Swinton lewat penampilan yang (selalu) prima seakan menyuarakan dengan lembut sekaligus tegas “AKULAH CINTA!”. Ya, I Am Love seakan menjadi semacam media dari propaganda Tilda Swinton akan cinta dalam pemahamannya. "I Am Love is a narrative version of what Tilda was saying." begitu ucap sang sutradara, Luca Guadagnino, dalam sebuah wawancara. Cinta dalam pandangan Tilda Swinton adalah sesuatu yang revolusioner. Tilda Swinton dan Luca Guadagnino pernah bersinergi menghasilkan The Love Factory.


Cinta itu gairah yang membebaskan. Itulah yang dialami Emma (Tilda Swinton) ketika jatuh cinta kepada teman anaknya yang cinta masak, Antonio (Edoardo Gabbriellini). Rasa cinta yang muncul akibat gairah. Bukan gairah nafsu, namun gairah rasa. Lewat masakan yang dihasilkan dari tangan Antonio dengan penuh kecintaan, Emma merasakan suatu gairah yang keluar dari dirinya setelah sekian lama terkurung. Emma yang aslinya berasal dari Rusia, selama ini hidup dengan mengubur secara perlahan identitas aslinya. Pada permukaan dia terlihat biasa saja dengan hal tersebut, namun pada lubuk hati terdalam, dia sebenarnya rindu pada dirinya. Antonio hadir menjadi pemicu bagi Emma yang sebenarnya untuk keluar membebaskan diri. Atas nama cinta juga, Emma menghargai pilihan anak perempuannya, Elisabetta (Alba Rohrwacher), yang menjalin hubungan dengan sesama perempuan. Lalu bagaimana dengan Antonio? Dia membalas rasa Emma karena Emma mampu menghargai rasa cinta Antonio akan masakannya. Di samping Emma, Antonio bebas berkreasi. Masakan/makanan dalam I Am Love merupakan elemen penting, bukan sekedar pemanis. Makanan/masakan Antonio merepresentasikan kebebasan, kenikmatan sekaligus keindahan akan kreasi yang dilandasi rasa cinta.


Cinta itu manusiawi. Itulah yang terjadi ketika Emma jatuh cinta kepada Antonio. Pada salah satu adegan, Emma mengajak Ida (Maria Paiato), sang pelayan, untuk makan bersama dirinya. Meski undangan tersebut tidak mendapatkan respon, namun gara – gara cinta, Emma menghapus jarak antara buruh dan majikan. I Am Love secara halus memang mengolok – olok system ekonomi yang ada (kapitisme) sebagai salah satu factor yang mengikis rasa cinta. Kepentingan para pemilik modal sering menempatkan manusia pada posisi menguntungkan atau merugikan. Kemanusiaan seakan hilang ketika berhadapan dengan uang. Manusia menjadi lebih dingin terhadap manusia yang lain, hingga lupa dengan perasaan manusia lain, bahkan dengan istrinya sendiri sekalipun. Edoardo Jr. (Flavio Parenti) yang masih belum tercemar motif ekonomi, berusaha melawannya atas nama cinta keluarga dan pertimbangan kemanusiaan. Dan sangatlah manusiawi ketika Edoardo Jr marah mengetahui rahasia ibunya. Kemarahannya merupakan wujud dari rasa cintanya terhadap keluarga besar Recchi.


Cinta itu keindahan yang mendebarkan. Itulah yang terjadi ketika Emma jatuh cinta kepada Antonio. Melalui gambar – gambar indah nan memikat olahan Yorick Le Saux kita diajak untuk meyelami perasaan Emma saat dilanda cinta. Kita seakan bisa merasakan sensasi rasa cinta dari Emma lewat keindahan alam, kesegaran udara dan paduan warna yang cerah menyegarkan. Cinta membuat Emma lebih menghargai keindahan alam, mengintiminya dalam rangka merayakan kehidupan. Hebatnya, rentetan gambar tersebut mampu membuat saya berdebar- debar. Ada perasaan membuncah yang membuai namun siap meledak. Sebuah orgasme rasa. Tidak hanya itu, kamera seakan menyorot Tilda Swinton sebagai wujud cinta. Dalam I Am Love, kamera seakan mencintai Tilda Swinton hingga menelanjangi Tilda dengan sedemikian rupa, dari berbagai sudut dan tidak terkesan vulgar. Love scene (bukan sex scene) antara Emma dan Antonio terasa menggetarkan. Keindahan cinta hadir dalam wujud Tilda Swinton.


Cinta itu suatu misteri. Itulah yang saya tangkap ketika melihat pilihan yang diambil oleh Emma di akhir kisah. Tidak semua orang bisa paham mengapa dia mengambil pilihan seperti itu. Mungkin pilihan tersebut hanya bisa dipahami oleh orang – orang yang telah merasakan cinta. Bagi saya, dengan pemahaman cinta itu tidak akan menyebabkan luka pada salah satu pihak, apalagi memakan korban, maka langkah yang diambil oleh Emma bukanlah berlandaskan cinta. Namun, kalau dikembalikan pada pemikiran cinta itu membebaskan, maka cinta terwujud pada pilihan Emma. Inilah misteri cinta. Kita tidak pernah tahu apa makna sebenarnya. Benar salah menjadi kabur dalam cinta. Tampaknya, masing – masing orang bebas menginterpretasikan cinta, layaknya I Am Love persembahan Luca Guadagnino dan Tilda Swinton ini. Setuju boleh, tidak setuju pun tidak dilarang. Inilah mungkin yang membuat cinta itu suatu misteri mengingat kompleksitas didalamnya dan sifatnya yang universal.


I Am Love benar – benar menyeret kita ke dalam nuansa penuh cinta. Kisahnya berpotensi menghadirkan kisah ala opera sabun, apalagi dengan dimasukkannya tragedi didalamnya. Namun, dengan penuturan yang indah, I Am Love menjelma menjadi sebuah sajian berkelas, layaknya sebuah karya yang dibuat dengan penuh cinta. Emosi saya benar-benar diaduk sedemikian rupa menyaksikan transformasi cinta dari Emma. Berdebar hati ini ketika Emma berusaha mengejar cintanya di San Remo. Kalau Lady Chatterley berusaha membebaskan gairah tubuh (perempuan), I Am Love menuntun kita untuk membebaskan gairah rasa bernama CINTA.


1 comments:

Moan And New Line Cinema mengatakan...

Wah aku juga udah kelar nonton tadi malam Mas Curhaat
adegan adegannya terasa simbolik sekalii...(terlebih cara men shoot adegan terlarang di alam terbuka ituuh)

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST