KISAH CINTA DARI FILIPINA : TIL MY HEARTACHES END

Hubungan pria wanita memang paling asyik buat dikulik. Ada saja yang bisa dibahas berkaitan dengannya. Paolo “Powie” Barredo (Gerald Anderson) adalah seorang pemuda yang mempunyai tekad kuat untuk membuktikan pada dunia kalau dirinya mampu berhasil meski tanpa tergantung pada orang tua yan g kebetulan sedang berpisah. Ayah kandungnya yang lebih memusatkan perhatian pada keluarga barunya membuat Powie merasa terbuang, terasing dan makin bertekad mewujudkan ambisinya. Di tengah usahanya akan ambisinya tersebut, Powie bertemu dengan Agnes Garcia (Kim Chiu), sosok cewek kalem yang mengangankan bisa berkumpul bahagia bersama ayah ibunya yang terpaksa hidup terpisah karena factor pekerjaan. Pendekatan Powie yang gencar membuat Agnes luluh hingga menempatkan Powie sebagai pusat dunianya. Kehadiran Agnes sendiri mampu memotivasi Powie untuk lebih giat meniti tangga keberhasilan. Dan berhasil.

Keberhasilan Powie tersebut nyatanya berpengaruh terhadap hubungan keduanya. Frekuensi pertemuan makin berkurang hingga muncul kesalahpahaman. Kepedulian Agnes dianggap Powie lama – lama sebagai belenggu langkah, dan intensitas komunikasi yang jauh berkurang dari sebelumnya membuat Agnes berprasangka terhadap Powie. Masing – masing pihak merasa benar. Masing – masing pihak meminta pengertian. Meski sudah berbaikan, masalah yang sama kembali muncul. Problematika keduanya semakin meruncing ketika hadir Lea (Desiree Del Valle). Pada bagian ini satu detail kecil namun menarik dihadirkan oleh Jose Javier Reyes. Detail tersebut berkaitan dengan perkembangan teknologi alat komunikasi. Secara halus disampaikan, bukan kecanggihan yang dibutuhkan, tetapi bagaimana memfungsikan teknologi yang ada.

Menyaksikan Til My Heartaches End ini awalnya sempat membuat saya bosan. Kisah dan gambar yang dihadirkan terkesan biasa saja. Namun lama – kelamaan, tanpa sadar saya seakan diajak untuk berkaca. Di balik kesederhanaannya, Til My Heartaches End menghadirkan satu kisah yang bisa menimpa siapa saja termasuk saya. Penulis sekaligus sutradara film ini, Jose Javier Reyes, menghadirkan permasalahan hubungan pria wanita dengan tanpa dramatisasi yang berlebihan. Mengalir. Sudut pandang masing – masing pihak disajikan dengan cukup berimbang. Karakterisasi dua tokoh utamanya cukup meyakinkan hingga aksi reaksi dari keduanya cukup beralasan. Kerapuhan Agnes bukanlah tanpa sebab, begitupun dengan kekerasan tekad dari Powie. Latar belakang yang bebeda dari keduanya membentuk karakter yang saling bertolak belakang hingga tinggal menunggu waktu untuk timbul sebuah percikan masalah.

Penuturan Jose Javier Reyes juga cukup menarik. Penonton dibuat penasaran dengan pertemuan penting antara Agnes dan Powie. Keduanya akan membicarakan sebuah keputusan penting berkaitan hubungan mereka. Namun, sebelum keputusan dikemukakan oleh masing – masing pihak, kita diajak untuk menelusuri sejarah pertautan hati keduanya. Gaya penuturan ini cukup efektif memancing rasa penasaran akan apa sebenarnya yang akan mereka putuskan. Bagi saya, ending dari film ini tersaji cukup berbeda dengan kisah cinta kebanyakan. Paruh akhir dari film ini bagi sebagian orang mungkin terkesan penuh petuah, namun bagi saya disampaikan dengan cukup pas. Beberapa quote bisalah dijadikan sebagai pegangan, terutama buat mereka yang belum berhasil menemukan cintanya. Tak perlulah terlalu lama menyimpan rasa sakit, apalagi dendam. Move on.


1 comments:

Iqbal Rois mengatakan...

permisi... ada orangnya gak ya? lama gak update euy.. :)

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST