BICENTENNIAL MAN

Masih ingat ketika lebih dari 10 tahun yang lalu saya dibuat menangis tersedu – sedu oleh perjuangan Andrew (Robin Williams) demi pengakuan sebagai seorang manusia dalam film Bicentennial Man. Kisahnya mengingatkan saya pada kisah Pinokio atau malaikat dalam City of Angels yang juga menginginkan hal yang sama. Kisah dalam Bicentennial Man makin mendayu – dayu berkat music iringan James Horner serta buaian suara nan merdu dari Celine Dion, Then You Look at Me…
Beberapa hari yang lalu saya berkesampatan menyaksikan lagi film yang sama. Tidak lagi dibuat menangis, namun saya menyikapinya dengan sudut pandang yang berbeda. Dulu, saya menganggap Andrew adalah sosok yang simpatik. Robot/Android cerdas dengan dedikasi tinggi akan fungsinya. Saya masih terkesan dengan sisi Andrew yang demikian, namun ketika melihat keinginan Andrew untuk menjadi manusia, saya menganggap Andrew ini adalah sosok yang kurang ajar karena banyak tuntutan dan kemauan. Sosok yang tidak pernah puas dengan apa yang telah digariskan untuknya.
Setelah merenung lebih dalam lagi, bukankah kebanyakan manusia kebanyakan jugalah demikian adanya? Sudah dapat A, masih saja menginginkan B. selalu dan terus begitu. Jadi, bisa jadi Bicentennial Men itu merupakan personifikasi dari manusia kebanyakan. Perjuangannya akan eksistensinya sejalan dengan perjuangan kaum minoritas untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam tatanan masyarakat. Kita ambil contoh kaum LGBT misalnya. Awalnya mereka ingin diakui orientasi yang mereka pilih, selanjutnya mereka ingin melegalkan pernikahan diantara mereka. Tak mengherankan kalau hidup mereka menemui jalan terjal dan berliku, mengingat mereka mengambil pilihan yang tidak banyak diikuti oleh orang lain. Hal yang sama juga menimpa Andrew yang membutuhkan waktu 200 tahun untuk mendapatkan pengakuan.
Apa sih enaknya atau istimewanya menjadi manusia itu hingga Andrew ngotot ingin diakui sebagai manusia? Hmmm…sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa macam – macam. Tergantung keyakinan masing – masing lah ya. Bicentennial Man tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan detail, karena dikemas dengan sangat ringan. Ada banyak celah yang membuat kita bertanya – tanya (dan terus bertanya). Tema berat soal hakekat manusia memang tidak cukup disajikan dalam durasi 2 jam lebih sedikit. Namun, Bicentennial Man berhasil memancing banyak perenungan. Kalau tidak mau dipusingkan dengan muatannya yang berat, nikmati saja teknologi yang hadir di layar yang tidak terkesan jadul walau bukan rilisan terkini. Dan perhatikan juga bagaimana make-up dari film ini dikerjakan dengan bagus sekali.

0 comments:

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST