THE IMPOSSIBLE (Spoiler Alert!)

Tsunami itu, walau belum mengalami secara langsung (Alhamdulillah) dan hanya menyaksikannya via media, sangatlah horror. The Orphanage adalah sebuah film horror besutan Juan Antonio Bayona yang cukup menggedor jantung. Apa jadinya kalau Bayona menggarap film dengan latar belakang tsunami? Ternyata hasilnya adalah sebuah sajian horror yang amat mengerikan sekaligus menyakitkan. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah menonton The Impossible. Beberapa kali hati saya dibuat terkoyak – koyak dengan kehadiran gambar – gambar akibat keganasan tsunami.
Tampak di layar Naomi Watts terombang – ambing dan terseret derasnya air hingga tubuhnya tergulung, terbentur sekaligus terkoyak. Sungguh sebuah siksaan yang dahsyat, tak hanya bagi Naomi Watts, namun juga bagi saya sebagai penonton. Entah bagaimana rasanya kalau kita mengalaminya sendiri. Bayona secara kejam menyeret kita untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang berusaha berjuang dari terjangan tsunami dengan menghadirkan gambar – gambar yang terasa nyata. Sejak awal, kengerian sudah dimulai dengan suara serta penempatan kamera yang sedemikian rupa. Sesak nafas saya dibuatnya, hingga di dalam bioskop rasanya ingin teriak “Sudah! Hentikan! Hentikan!” The Impossible adalah sebuah film yang mampu membuat saya menangis tersedu – sedu di dalam bisokop. Perasaan saya dibuat naik turun. Beragam perasaan bermunculan. Sedih, takut, ngeri, harap cemas hingga pada akhirnya senyum bahagia ketika ada harapan menyapa.
The Impossible adalah semacam horror tanpa harus menampilkan sosok psycho atau hantu banci tampil. Pun demikian, The Impossible jauh lebih mengerikan untuk disaksikan. Bisalah The Impossible ini dimasukkan sebagai torture horror. Dan pemilihan Naomi Watts amatlah tepat. Masih ingat kan dengan ekspresi dia yang meyakinkan di Funny Games? Dalam The Impossible, Naomi Watts bermain bagus sebagai seorang istri dan ibu yang teraniaya oleh ganasnya alam. Dan horror model beginian akan semakin efektif kalau yang menjadi korbannya adalah sosok perempuan. Tidak bermaksud seksis, namun kebanyakan torture horror menunjukkan hal demikian. Hal ini makin dikuatkan dengan tak adanya visualisasi bagaimana Ewan McGregor bisa survive.
Ada semacam pertautan antara The Impossible dengan karya Bayona sebelumnya, The Orphanage, yakni hubungan ibu dan anak serta kebahagiaan ketika bisa berpelukan dengan orang – orang yang kita sayangi. Sebuah pelukan yang membutuhkan perjuangan. Percayalah, setelah menyaksikan The Impossible ini kita rasanya ingin pulang dan memeluk ibu/bapak/istri/suami/anak kita.

Bloopers?
Ketika Lucas melihat luka di sekitar dada ibunya, itu Naomi Watts gak ada kutang hitam kan? Tapi pas di akhir ketika ada pengungkapan daya juang Naomi Watts, terlihat dia memakai kutang hitam, yakni ketika dia berhasil muncul ke permukaan. Kutangnya lari kemana ya?

4 comments:

Ridho Akhmad mengatakan...

belum sempet nonton, kapan ya?
salam

Soeby mengatakan...

Salam kenal. Terimakasih sudah mampir. Kalo masih tayang di bioskop terdekat, segera ditonton gak rugi deh :)

Obat liver herbal mengatakan...

seru kayanya nih

gasoline sky mengatakan...

gw pernah baca, waktu directornya cari investor mereka mau bikin asal karakternya utamanya di rubah dari orang latin menjadi orang bule...supaya lebih laku *geleng kepala*

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST