LIFE OF PI : BELIEVE, UNBELIEVEABLE

Kamu tidak percaya dengan adanya Tuhan atau mungkin masih dalam tahap untuk mempercayai – Nya? Maka kamu perlu untuk menyimak kisah yang dituturkan oleh Pi Patel. Buat yang sudah meyakini adanya Tuhan, kisah hidup Pi Patel juga masih layak untuk disimak. Sejak kecil, Pi telah menunjukkan ketertarikkan akan hal – hal yang berbau spiritual. Hal tersebut menempatkan Pi menjadi anak yang berbeda dibandingkan dengan kebanyakan anak yang lainnya. Beruntungnya Pi, dia tinggal bersama orang – orang yang tidak dengan tegas mengacak – acak apa yang menjadi pilihannya. Di bagian awal saat perkenalan karakter Pi, kita sudah diberi gambaran bagaimana Pi adalah sosok manusia unggul yang bisa mencari jalan keluar atas belenggu yang melilitnya. Bagaimana dia menghalau julukan yang melekat pada dirinya, menunjukkan kualitas tersebut.
Kepercayaan Pi akan Tuhan mendapatkan ujian ketika datang sebuah badai yang membuatnya terpisah dengan keluarganya. Belum cukup sampai disitu, dia harus hidup dengan seekor binatang buas bernama Richard Parker di tengah samudra luas. Ancaman kehidupan yang menimpa Pi makin terasa berat karena selain berhadapan dengan Richard Parker, dia juga harus siap dengan kemarahan alam yang siap datang kapan saja. Namun, ancaman terbesar tetap yah datang dari dirinya sendiri. Bagaimana dia harus mempunyai motivasi untuk lanjut menjalani kehidupannya.
Yup, pada akhirnya Kisah Pi tidak hanya tentang Ketuhanan, namun juga kisah bagaimana menjalani kehidupan. Intinya sih, jangan hanya berani mati, tapi juga berani untuk hidup. Dan untuk bertahan hidup, tidak mudah terombang – ombing oleh badai kehidupan, setiap manusia perlu sesuatu sebagai pegangan. Masih ingat kan dengan Forrest Gump yang dengan keterbatasannya bisa bertahan, bahkan menjadi manusia sukses, berkat pegangan yang kuat. Pegangan disini masing – masing orang sangatlah berbeda. Pegangan Forrest Gump berupa keyakinan akan nasehat ibunya. Mama bilang begini, mama bilang begitu. Keyakinan, iman atau apalah itu namanya menjadi modal penting ketika kita mencoba untuk bertahan hidup.
Pi Patel mencoba bertahan dengan apa yang diyakininya. Hal tersebut tidaklah mudah karena di depannya tersedia banyak sekali pilihan. Setiap pilihan seakan mempunyai 2 wajah. Menyelamatkan atau justru menjerumuskan. Dalam Life of Pi disajikan banyak metafora tentang tipisnya batas keyakinan dan kebimbangan. Dan memang dua hal tersebut menurut saya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kebimbangan bisa menggiring pada keyakinan, begitupun sebaliknya.  Yang dibutuhkan selanjutnya adalah kewaspadaan dan kecerdasan dalam membaca alam. jangan mudah terbuai dan mudah putus asa. Ketika hadir keindahan yang membuai, datang sebuah badai yang menghancurkannya. Dan ketika badai berlalu, hadir kembali keindahan baru yang tak kalah membuai. Begitu seterusnya.
Satu pelajaran penting yang juga bisa kita dapatkan lewat kisah Pi Patel adalah bahwa kita manusia merupakan satu kesatuan dengan alam yang kita tinggali. Antara makhluk satu dengan makhluk yang lain saling membutuhkan. Kebuasan terkadang ada demi keseimbangan. Pi Patel pada akhirnya menyadari, kehadiran Richard Parker tidak hanya sebuah ancaman namun juga factor yang membuatnya untuk selalu sadar dan waspada. Richard Paker pun meski tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara verbal, bisa jadi sadar kalau dirinya membutuhkan Pi Patel untuk bertahan hidup. Richard Parker sadar kalau Pi Patel mati, makin mengecil kemungkinan dirinya bisa bertahan hidup.  Eh, tapi siapa sih yang tahu pasti dalam hatinya seekor macan. Sama seperti kita tidak tahu pasti siapa yang benar saat Pi Patel berargumentasi dengan ayahnya seputar tatapan mata si macan.
Jadi, kamu percaya akan Tuhan atau tidak? Atau belum? Pertanyaan ini dieksekusi oleh Ang Lee dengan cerdas yakni ketika Pi Patel menyajikan sebuah cerita alternative. Pada akhirnya terserah kepada audiens, kisah mana yang akan dipercayai. Hal ini ada korelasinya dengan percaya atau tidak percaya akan adanya Tuhan. Kalau dirunut dari awal, Life of Pi ini tidak secara arogan menggiring kita untuk percaya begitu saja akan keberadaan Tuhan. Kita hanya dibekali dengan informasi dari Mamaji nya Pi Patel, kalau cerita Pi Patel akan membuat Sang Penulis percaya akan Tuhan. Mamaji memilih untuk percaya Tuhan dan Sang Penulis memilih untuk menyukai kisah luar biasa magis yang dituturkan oleh Pi Patel. Kamu percaya kalau Richard Parker tidak mengucapkan selamat tinggal pada Pi Patel? Kamu yakin Richard parker tidak mengucapkan selamat tinggal pada Pi? Kita tidak tahu pasti kan kalau misalnya di balik semak – semak itu Richard Parker menangis tersedu –sedu dan terus mengawasi Pi sampai benar – benar yakin Pi terselamatkan. Saya serahkan keyakinanmu pada dirimu. Terserah kalau pada mau bilang film ini mirip dengan The Big Fish. Terseraaaaaaah…… *elek tenan curhatan iki*

3 comments:

Nugros C mengatakan...

wew, mas-e lama amat ga nge-review iki kayanya..hihi

yg pasti ni film bukan cuma memanjakan mata dgn 3d-nya yg ga nanggung2, tapi juga ceritanya yg ane rasa ‘kontemplatif’..(aduh,bahasanya,,)bukan cuma tentang keyakinan tapi juga tentang harapan..

ah..jadi pengen baca bukunya ane..

Soeby mengatakan...

iya,jadi kagok nih...hahahaha... Filmnya menurutku sangat berhasil angkat spirit yg ada di bukunya lho

alex mustaqiem mengatakan...

sip

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST