THE ARTIST

Perubahan selalu menghadirkan riak dan dan gelombang akibat penyesuaian demi penyesuaian yang kadang menyenangkan, namun juga melelahkan. Perubahan pastinya tidak bias dihindari dalam segala aspek kehidupan. Tak terkecuali di dunia sinema. George Valentin (Jean Dujardin) adalah seorang bintang film kondang di Era film bisu. Setiap karya yang menghadirkan dirinya selalu disambut hangat oleh public. Sebagai salah satu artis papan atas, George Valentin hidup dalam sorotan dan sangat menikmatinya. Hebatnya, George Valentin tahu bagaimana menempatkan dirinya tidak hanya sebagai seorang penghibur, namun juga bagaimana dia menempatkan dirinya tepat di tengah lampu sorot. Riak dan Gelombang itu akhirnya datang dan mengancam eksistensi George Valentin. Berada di puncak, George awalnya abai dengan datangnya era film bersuara. Namun, ketika secara perlahan ketenarannya tersisih oleh teknologi dan bintang baru, George pun ambruk tak berdaya. Mampukah George menggenggam karir keartisannya kembali?

Dengan presentasi warna yang sebenarnya cenderung membosankan, The Artist arahan ini Michel Hazanavicius tidak lantas menjelma menjadi tontonan yang menjemukan. Sejak layar dibuka, The Artist mampu menyeret atensi penonton berkat aura keceriaan yang dipancarkan oleh kejenakaan Jean Dujardin dan juga Uggi, sang anjing kesayangan. Film ini bertransformasi menjadi sedikit suram ketika perlahan karir George menukik ke bawah. Pada bagian ini, George mulai ditinggalkan orang – orang disekitarnya, termasuk istrinya dan harus berpisah dengan ornamen-ornamen yang menjadi saksi kesuksesannya. Pada fase selanjutnya, ada aura ketegangan yang dihadirkan oleh Michel Hazanavicius dengan Uggie sebagai bintangnya. Dan akhirnya, film pun ditutup dengan keceriaan yang mengesankan.

The Artist di mata saya menyajikan sebuah kisah tentang perubahan, dimana proses menjadi elemen penting di dalamnya. The Artist terasa menarik karena transformasi tersebut di kaitkan dengan dunia sinema (Hollywood), meski kalau dicermati transformasi yang dihadirkan di dalam The Artist jamak terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan kerja kamu. Dan transformasi dalam The Artist seakan menjadi gambaran transformasi yang ideal. Ada pihak yang pro dan ada yang kontra, namun sejatinya transformasi akan terasa indah kalau ada sinergi dari berbagai pihak. Transformasi yang dilandasi cinta, yang dalam The Artist diwakili oleh Peppy Miller (Bérénice Bejo). Sosok yang satu ini menjadi karakter penting bagi perkembangan karakter George Valentin. Kecintaannya pada sinema dan juga George, membuatnya tak pernah berhenti berusaha merangkul George untuk larut dalam arus perubahan yang ada. Hasilnya? Semua pihak bersuka cita merayakan sinergi dua energy. Peppy sukses menebarkan virus cinta.


Hubungan George dengan Peppy juga merupakan wujud romantisme dua generasi. Lagi – lagi, apa yang dihadirkan dalam The Artist merupakan gambaran yang ideal. Tidak ada konfrontasi yang benar – benar tajam antar dua generasi tersebut, meski untuk sementara waktu ada pihak yang tersisih. Sebagai senior, George Valentin tidak egois berbagi sorotan dan senantiasa menjadi panutan. Bahkan, George-lah yang membuka pintu bagi Peppy. Sedangkan Peppy yang lebih muda tidak lantas luntur rasa hormat dan melupakan jasa sang senior, justru mencoba melibatkannya untuk menikmati dan merayakan perubahan yang ada. Karena, sukses yang dia raih tidak bias dilepaskan dari peran sang senior. Keduanya bersinergi menghasilkan karya yang justru bisa merangkul lebih banyak kalangan. Inilah salah satu inovasi. Sebuah proses kreatif, hingga pada akhirnya mereka bisa disebut sebagai The Artist. Tarian di akhir film menunjukkan kolaborasi yang manis dari dua era dan dua jenis kelamin yang berbeda. Hei....jangan lupakan Uggie ya. Kehadirannya menggambarakan sinergi yang manis antar mamalia hehehe... The Artist adalah sebuah sajian mengesankan yang tak mudah untuk dilupakan, memberikan keceriaan dan juga inspirasi sekaligus.



0 comments:

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST