LIVE WITH LIES : ALBERT NOBBS, MISS RIPLEY & L’EMPLOI DU TEMPS (TIME OUT)

Kebohongan. Hidup kita senantiasa dikelilingi dengan kebohongan. Siapa sih yang benar – benar jujur di dunia ini. Seperti halnya laut, belum ada yang benar – benar tahu dalamnya hati manusia, begitu para orang tua pernah bertuah. Kebohongan tidak cukup di dunia nyata, dalam sepekan terakhir ini saya secara beruntun menyaksikan beberapa sinema yang didalamnya tokoh – tokohnya hidup dalam kebohongan. Dalam ragam motif, namun intinya sama, Kebohongan merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup. Dan, sesungguhnya kebohongan itu menguras hati dan jati diri.

ALBERT NOBBS
Sekitar 30 tahun, Albert Nobbs hidup dalam kebohongan. Dilahirkan berjenis kelamin perempuan, Albert membungkus dirinya dengan atribut yang kelaki-lakian, hingga banyak yang percaya kalau dirinya adalah seorang lelaki. Peristiwa tragis di masa lalu dan kesempatan yang ada menjadi latar belakang bagi dirinya untuk hidup nyaman dengan “bungkus” yang dia pilih. Saking melekatnya bungkus tersebut, Albert tidak pernah menyebut dirinya sebagai selain Albert. Pilihan akibat paksaan situasi pada akhirnya membuat dirinya merasa aman dan perlahan membentuk identitas dan jiwa baru, Namun, Albert tetaplah seorang manusia normal dengan nafsu dan ambisi. Tak berbeda jauh dengan manusia “normal” lainnya dengan kemauan hingga mau berselimutkan kebohongan.

Dengan sosok utama dengan “bungkus” yang luar biasa, sayangnya film arahan Rodrigo Garcia ini menjelma menjadi sebuah tontonan yang minim riak. Film yang menghadirkan penampilan gemilang dari Glenn Close dan Janet McTeer ini tampaknya kurang berniat mengkonfrontasikan secara mendalam kondisi Albert Nobbs dengan situasi yang ada. Minim gugatan terhadap identitas Albert, dan film ini lebih memfokuskan usaha Albert mewujudkan impiannya. Albert Nobbs pada akhirnya hanyalah sosok manusia biasa yang tidak berbeda dengan Joe Mackins (Aaron Johnson) atau Helen Dawes (Mia Wasikowska) yang mempunyai motif kebohongan masing-masing. Atau mungkin ini yang ingin disampaikan oleh sang creator? Yaitu, apapun wujudnya, manusia itu pada dasarnya sama saja.
Bandingkan dengan Boys Don’t Cry atau Tootsie. Kedua film tersebut lebih enak dinikmati berkat konfrontasi yang cukup apik antara si tokoh utama dengan situasi yang ada. Sulitnya hidup sebagai transgender memang cukup tergambar dengan baik lewat pasangan Hubert Page (Janet McTeer) dan Cathleen (Bronagh Gallagher) namun kok rasanya kurang dramatis ya. Kebohongan bukannya terkadang membangkitkan perasaan mendebarkan hingga terasa dramatis ya?

MISS RIPLEY
Ri Mi Jang (Lee Da Hae), seorang gadis cantik yang pasti memesona setiap mata yang melihatnya berkat pesona fisik yang melekat pada dirinya. Namun dibalik keunggulan tersebut, Ri Mi nyatanya menyimpan sisi gelap yang menghibakan sekaligus menyebalkan. Lama hidup dalam tekanan, Ri Mi berjuang untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Kebohongan demi kebohongan dia lontarkan demi mewujudkan ambisinya, meski harus mengorbankan orang –orang yang sebenarnya sangat peduli padanya. Drama Korea ini memberikan sesuatu yang menarik. Di satu sisi kita bersimpati dan memaklumi aksi bohongnya, namun di sisi yang lain kita dibuat benci sekaligus ngeri melihat perlakuan tidak setimpal yang diterima oleh Jang Myung Hoon(Kim Seung Woo), Yutaka(Yoo Chun) dan Moon Hee-joo (Kang Hye Jung). Tokoh utama yang tidak klise yang membuat jalinan cerita menjadi menarik diikuti, meski terkadang lelah juga melihat dirinya tak jua hentikan aksinya.

Sosok Ri Mi ada banyak sekali di dunia nyata. Dulu, waktu kuliah saya mempunyai teman cewek dengan karakter yang hampir mirip dengannya. Berasal dari keluarga pas-pasan, teman saya tersebut bermain dengan kebohongan di sana-sini. Banyk janji yang terucap dan ada beberapa korban yang terpedaya, termasuk saya. Awalnya saya marah dengan teman saya tersebut, karena dia merampas salah satu buah pikiran yang saya banggakan. Tapi, setelah tahu kiprah dia yang sebenarnya, saya jadi merasa kasihan padanya.

Selain teman saya, ada juga tetangga saya yang mempunyai kemiripan dengan Ri Mi. Sosok ini pernah saya singgung DI SINI Masa kecilnya yang keras dan terabaikan membuat Prihatin secara simultan melontarkan kebohongan demi kebohongan yang sialnya tidak membuat hidupnya lebih baik. Kebohongan mungkin bisa mendatangkan anugerah sesaat, namun kalau tidak segera dihentikan, akan datang gelombang musibah.
Judul Miss Ripley terinspirasi dari kisah Tom Ripley yang pernah difilmkan oleh Anthony Minghella yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Patricia Highsmith. Dan memang ada kemiripan karakter antara Ri Mi dengan Tom Ripley. Sayang, kebohongan Ri Mi kurang low profile.

L’EMPLOI DU TEMPS (TIME OUT)
Entah atas dasar kecintaanya pada keluarganya atau karena egonya sebagai seorang lelaki yang membuat Vincent (Aurelien Recoing) melakukan kebohongan demi kebohongan paska dipecat dari tempatnya bekerja. Dari rentetan perjalanan kebohongan Vincent, akhirnya kita bisa melihat bahwa 2 motif di atas bisalah kita simpulkan sebagai dasar mengapa Vincent memilih hidup dalam kebohongan. Vincent adalah seorang anak yang dibanggakan oleh orang tuanya. Selain berperan sebagai anak, Vincent juga harus berperan sebagai seorang suami sekaligus ayah. Apa yang membuat nyaman seorang lelaki dengan peran sebagai anak, suami maupun ayah sekaligus? Kalau hal tersebut ditanyakan saya, yang seorang laki-laki, maka salah satu jawaban yang akan saya lontarkan adalah : PEKERJAAN.
Pekerjaan yang bagus sangatlah memberikan kebanggaan pada orang tua, karena seringkali anak itu ditempatkan sebagai piala dari orang tua. Pekerjaan yang mapan bagi seorang lelaki berarti wujud dari tanggung jawabnya terhadap keluarga. Jadi, pekerjaan adalah sesuatu yang krusial bagi lelaki, terutama bila dikaitkan dengan konteks patriarki. Apa jadinya kalau lelaki tanpa pekerjaan? Hal tersebut tentunya akan menjatuhkan harga diri. Itulah yang tampaknya berkecamuk dalam diri Vincent hingga dia melakukan aksi-aksi kebohongan yang bisa membuat hidupnya makin terpuruk.

Adegan antara Vincent dengan anak sulungnya di paruh akhir sangatlah menyentuh saya. Apa yang dilakukan Vincent seringkali dinilai sebagai perbuatan tidak bertanggung jawab, namun ketika kamu dihadapkan peran sebagai anak, suami dan ayah sekaligus, apa yang berkecamuk dalam diri Vincent bisa membangkitkan empati. Itulah yang saya alami. Paska membina rumah tangga, saya merasa lebih bisa menyelami perasaan ayah saya. Jadi, meski terkadang kita menghujat kebohongan, dalam hati kita terkadang memaklumi hal tersebut. Kenyataannya, manusia tak jera tuk berbohong.

1 comments:

Anonim mengatakan...

Ass. Wr. Wb. Kemasan review-nya menarik! Membalik kebiasaan para reviewer. Biasanya satu film dikuliti hidup-hidup. Yang ini beberapa film dikerucutkan dalam satu tema, menjadi semi-feature dgn perbandingan akurat. Tapi konsekuensi logisnya, ulasan dari tiap film menjadi kurang mendalam. Aku yang belum menonton Albert, berharap dapat sinopsis atau cuilan garis besar ceritanya seperti apa. Be the way, Mei nanti aku pinjam koleksi film kontender Oscar-mu tahun ini. Itu intinya, Kung. Wass. Wr. Wb. (@wayanlovely)

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST