KOKUHAKU / CONFESSIONS


Sebelum memutuskan berhenti mengajar, Yuko (Takako Matsu) mengeluarkan sebuah pengakuan yang mengejutkan. Yuko mengaku telah memasukkan darah yang telah terkontaminasi HIV ke dalam susu yang diminum oleh 2 orang muridnya yakni Shuya (Yukito Nishii) dan Naoki (Kaoru Fujiwara). Aksi Yuko tersebut dimaksudkan sebagai sarana balas dendam akibat kematian putrinya yang disebabkan oleh 2 bocah tadi. Sejak pengakuan tersebut, kita dibawa ke dalam suasana kelam yang membuat tidak nyaman. Sebenarnya, ketidaknyamanan kita sudah mulai terusik sejak gambar pertama dihadirkan. Sepanjang durasi, Tetsuya Nakashima secara konsisten menghempur kita dengan gambar – gambar kelabu serta rentetan detail gambar dan slow motion yang membuat hati galau.


Pengakuan Yuko ibarat virus yang menyusup ke dalam tubuh untuk kemudian secara perlahan melumpuhkan tubuh, menyiksanya dalam ketidaknyamanan hingga dibuat tak berdaya bahkan menemui ajal. Sebagai seorang guru, Yuko tahu betul bagaimana sebuah ide itu bisa membunuh seseorang. Apa yang dilakukan oleh Yuko adalah sebuah aksi balas dendam yang sempurna. Yuko dengan pintarnya memanfaatkan perannya sebagai juru transfer ilmu demi kepentingan pribadi. Aksi Yuko itu mirip dengan aksi para teroris akhir – akhir ini yang memupuk rasa takut dengan pengiriman bom dalam buku atau dalam tas. Satu kejadian, sanggup memicu rasa takut yang berantai. Lewat berita kita dapati ketakutan warga ketika menemukan atau mendapatkan bingkisan yang dirasa mencurigakan. Aksi Yuko mengingatkan saya pada sebuah kejahatan sempurna yang dilakukan oleh musuh Poirot dalam Tirai (terlalu sering saya membawa – bawa novel satu ini hehehe….)


Paska pengakuan Yuko, kita tidak hanya diajak melihat dampak dari pengakuan tersebut, namun kita juga diajak menelusuri lebih dalam isi hati Shuya dan Naoki. Pengakuan Yuko berhasil “memancing” pengakuan demi pengakuan yang mengejutkan sekaligus membuat miris. Ada sesuatu yang salah hingga terjadi peristiwa demi peristiwa yang tidak bisa diterima oleh nurani. Sempat dilontarkan ide seputar kenakalan remaja yang melampaui batas yang menegaskan kejahatan bisa hadir dari siapa saja tanpa memandang umur. Namun, kalau ditelusuri lebih dalam, kita bisa melihat kalau tragedy yang terjadi itu disebabkan oleh gagalnya 3 lembaga menjalankan perannya. Dimulai dari keluarga. Shuya dan Naoki hadir dari keluarga yang gagal menjalankan fungsi afeksi, proteksi dan edukasi. Shuya sejak kecil dijejali dengan ilmu pengetahuan demi ambisi ibunya. Perceraian orang tuanya membuat dirinya merasa terbuang. Sedangkan Naoki, tidak diperlihatkan sosok ayah yang mendampinginya.


Sekolah sebagai lembaga pendidikan dinilai gagal memberikan rasa nyaman dan aman pada mereka yang menuntut ilmu di dalamnya. Guru yang seharusnya menebarkan ilmu dan kebaikan justru menebarkan terror. Kekerasan yang terjadi tidak terendus atau mungkin pihak sekolah yang bersikap acuh? Entahlah. Dari beberapa film Jepang yang saya saksikan, kerap saya dapati sekolah itu ibarat hutan rimba dimana mereka yang kuat, merekalah yang berkuasa. Apakah kenyataannya demikian? Entahlah. Yang terakhir, media secara tidak langsung menjadi salah satu factor pemicu kenakalan dan kejahatan pada remaja. Kriminalitas mempunyai nilai yang lebih dibandingkan dengan prestasi. Kabar seputar disturbing behavior begitu mendominasi, jadi wajar kalau ada pihak – pihak yang mengadaptasinya. Informasi yang bisa diakses bebas tanpa pendampingan keluarga dan sekolah sungguh sangat berbahaya. Meski Shuya dan Naoki dalam Confession ditempatkan sebagai pelaku yang patut mendapatkan pembalasan setimpal di penghujung kisah, namun menurut saya keduanya adalah korban dari kegagalan 3 lembaga tadi menjalankan perannya.
Meski saya agak dibuat kelelahan dengan gempuran gambar slow motion, Confession adalah sebuah film yang tidak layak untuk dilewatkan.

8 comments:

Anonim mengatakan...

Confession adalah sebuah film yang layak untuk dilewatkan.

Movfreak mengatakan...

Emang buat nentuin hal itu baik apa buruk juga harus bisa ngeliat dari sudut pandang orang lain kayak di film ini

yusahrizal mengatakan...

Saya nonton film ini dan hasilnya saya jadi galau dgn institusi yang bernama pendidikan. Sempat jadi bahan diskusi juga dengan 2 ibu guru di blog saya. Yang namanya film bisa jadi bahan diskusi menarik, berarti ini sangat tidak layak untuk dilewatkan.

Soeby mengatakan...

@Movfreak : setuju, karena setiap hal mempunyai banyak sudut pandang

@yusahrizal : iya, saya sudah baca sampe capek. Panjang banget hehehe...tapi seru. Saya kadang terganggu dengan stigma yang diberikan guru pada muridnya. Tidak semua, tapi ada.

Anonim mengatakan...

bahan diskusi nih..

FX mengatakan...

film ini sangat tidak pantas untuk dilewatkan...

banyak yg bilang visualnya lebay, lambat dan melelahkan...

justru buat saya visual film ini lah yg menjadi senjata ke 2 selain tema yg diusung... visualnya pas untuk mengiringi ceritanay yg kelam, cinematography nya bagus.

Soeby mengatakan...

iya sih, slow motion membuat teror yang dihadirkan merasuk secara perlahan - lahan, tapi tetep kadang merasa capek juga ngikutinnya

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas informasi menarik

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST