UNITED STATES OF TARA



“…having multiple personalities is like hosting a kegger in your brain. Only you are passed out cold while everyone else is just trashing with joy.” - Tara Gregson

Pernahkah kamu dikejutkan dengan perilaku tak biasa yang ditunjukkan oleh orang-orang terdekatmu atau justru kamu yang mengejutkan mereka? Saya saja kadang dibuat terkejut oleh aksi tak terduga yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya bisa saya lakukan. Contohnya, saya selalu takjub ketika saya begitu menikmati saat – saat dimana saya mengiris – iris daging waktu perayaan Idul Adha. Sudah merasa psycho deh hehehe… Hal tersebut kadang membuat kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada kita. Ketidakbiasaan perilaku seringkali membangkitkan rasa penasaran, terutama ketika kita sudah “terperangkap” konsep akan karakter seseorang, meski sudah dibekali dengan pemahaman kalau manusia itu kaya akan karakter. Tinggal karakter mana yang sering muncul dan dominant mengambil peran tergantung kendali kita akan emosi. Ini IMO lho hehehe…


Lalu apa yang terjadi ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi dan menghadirkan berbagai karakter yang tidak kita sadari kemunculannya? Tanyakan pada Tara Gregson (Toni Collette) yang menderita dissociative identity disorder (DID). Gara – gara DID ini, ketika mengalami tekanan jiwa, walau karena hal sepele sekalipun, Tara mampu tampil dengan berbagai karakter. Ada T yang merepresentasikan remaja genit, Alice yang seorang ibu rumah tangga sejati dan yang paling ekstrem muncul dalam wujud Buck yang sangat laki. Pecahan – pecahan karakter tersebut membuat The United States of Tara menjadi sebuah tontonan yang menarik, mengingat kita bakal dibuat penasaran karakter yang mana yang akan muncul dan akan beraksi seperti apa. Belakangan, muncul karakter baru yang mengejutkan dan liar. Kemunculan karakter baru dari Tara ini berhasil membuat saya tegang karena aksinya yang cenderung destruktif, meski dengan bertujuan melindungi Tara. Hubungan antara Tara, T, Alice dan Buck cukup menarik. Kadang ada semacam persaingan diantaranya, namun tak jarang satu karakter membantu Tara dalam menyelesaikan suatu masalah.


Saya teringat akan sebuah quote dari miniseri Angels in America, ”Tubuh adalah pulau jiwa”. Begitulah yang (mungkin) terjadi pada kita dan Tara. Ibarat sebuah pulau (wilayah), tubuh dihuni oleh jiwa-jiwa yang berbeda karakternya yang kadang bertarung untuk menjadi sang dominan. Tara sebagai tuan rumah, terlihat lemah mengontrol penghuni yang lain yang berpotensi merampas eksistensinya. Terjadilah pertarungan yang melelahkan dan membuat depresi serta menyeret orang-orang disekitar Tara. Beruntung disamping Tara ada Max (John Corbett) yang sangat supportif. Entah apa yang terjadi pada Tara kalau tak ada Max disisinya. Max yang selalu menjaga Tara untuk senantiasa sadar. Berat sekali jadi Max, apalagi dengan kesepakatan tak tertulis, dilarang mencumbu Tara ketika jiwanya bukan Tara. Sesuatu yang sulit mengingat kelabilan Tara. Anak – anak Tara, yang beranjak remaja, kadang terlihat sulit beradaptasi dengan yang dialami ibunya, namun mereka harus berterima kasih karena “pecahan” Tara terkadang juga membantu mereka ketika masalah datang.


United States of Tara yang banyak menghadirkan dialog-dialog ajaib khas Diablo Cody menurut saya tidak sekedar menghadirkan problematika seputar dissociative identity disorder (DID). Di mata saya, United States of Tara ini semacam tribute terhadap sosok ibu yang mampu menjalankan banyak peran. Tara mengingatkan saya pada elastisitas seorang ibu di animasi The Incredibles. Di dunia nyata kita mungkin pernah dikejutkan dengan ibu kita yang kadang tak kalah genit dengan gadis remaja, ibu rumah tangga yang sangat berdedikasi sekaligus dramatis namun mampu bertindak buas ketika ada yang mengganggu keluarganya. Untungnya, Tara dan kroninya tidak seberbahaya Tyler Durden (Edward Norton / Brad Pitt) di Fight Club.
United States of Tara menjadi sebuah anugerah bagi Toni Colette. Peran Tara sungguh sebuah tantangan yang rasanya diimpikan oleh banyak aktris. Toni Colette yang tidak bisa dibilang cantik di mata saya mampu mempresentasikan kompleksitas karakter Tara dengan apik. Susah lho, mengingat kadang pergantian karakter bisa terjadi dalam hitungan detik. Rosemarie DeWitt meski tidak terlihat menonjol, memberikan sebuah kejutan pada salah satu episode yang pasti akan membuat kamu terperangah. Dan seperti tontonan kreasi Diablo Cody yang lain, United States of Tara yang diproduseri oleh Steven Spielberg ini menghadirkan musik – musik asyik.



0 comments:

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST