HOBO WITH A SHOTGUN


Pada suatu hari, seorang pria dengan lempengan besi penutup selokan yang dikalungkan di lehernya, berlari tergopoh – gopoh sambil memohon pada orang yang lalu lalang untuk membantunya. Naasnya, dari sekian banyak orang yang dia mintai tolong, tak ada satupun yang berkenan membantunya. Tak lama kemudian muncul orang – orang yang memburunya. Ternyata orang – orang tersebut merupakan antek dari The Drake (Brian Downey), seorang tiran kejam dan berpengaruh. Disaksikan oleh banyak orang layaknya bintang panggung, The Drake memberikan suguhan eksekusi yang yang sangat tidak manusiawi. Nyatanya hal tersebut disikapi lempeng – lempeng saja oleh orang – orang yang menontonnya. Tampaknya orang – orang tersebut sudah kebal dengan rentetan kekerasan yang kerap disuguhkan langsung di depan mata, termasuk via media bernama televisi. Namun, tak adanya reaksi terhadap kekejian yang terjadi bisa jadi disebabkan karena hal tersebut dilakukan oleh The Drake. Sosok yang satu ini beserta dua anaknya, Ivan (Nick Bateman) dan Slick (Gregory Smith) merupakan pihak yang memegang penuh control terhadap tempat yang menjadi setting kisah dan kerap menggunakan cara kejam untuk mengintimidasi dan menyingkirkan pihak – pihak yang dianggap mengancam. The Drake dan anak-anaknya tak berbeda jauh dengan tokoh Joker dalam Batman yang lihai menebarkan dan memanfaatkan rasa takut.


Namun akan tiba waktunya keruntuhan menyambangi The Drake dan kroninya. Hal tersebut tidak diwakili oleh sosok super hero layaknya Superman atau Spiderman. Sosok pengembara tua (Rutger Hauer) bakal menjadi The Special One yang mempunyai andil besar dalam kehancuran The Drake. Sang pengembara tua sebenarnya mempunyai mimpi yang sangat sederhana. Dia hanya ingin membuka usaha potong rumput! Sayangnya, kondisi yang ada belum menunjang mimpinya tersebut, terutama dengan kiprah The Drake yang makin merajalela. Hal ini membuatnya muak dan memutuskan untuk melakukan aksi perlawanan. Dengan naifnya, sang pengembara tua meminta bantuan aparat yang berwenang yang ternyata merupakan kroni dari The Drake. Untungnya Yang Maha Kuasa belum menghendaki sang pengembara tua untuk kehilangan nyawanya. Bersama Abby (Molly Dunsworth), PSK yang pernah dia tolong dan kemudian menolongnya, sang pengembara tua melakukan aksi pemberantasan.


Dibuka dengan adegan pembantaian yang dikemas dengan apik dan membuat mulut ternganga, selanjutnya tanpa basi – basi, sutradara Jason Eisener menggempur kita dengan rentetan visual yang lazim hadir dalam sebuah exploitation film. Seru sekali melihat Kekerasan yang dihadirkan secara sensasional, brutal serta ganjil. Semua adegan kekerasan yang dihadirkan dikemas dengan apik dan eksekusi pada masing – masing korban sangatlah kreatif. Jempol banget deh. Saya tidak akan mendeskripsikannya disini. Buktikan sendiri ya. Namun, untuk ukuran exploitation film, Hobo With A Shotgun terlihat jauh lebih sopan dalam menghadirkan adegan – adegan yang mengeksploitasi seks dan tubuh perempuan. Ada sih, namun dibandingkan dengan dalam Machete pun masih kalah eksploitatif. Kenapa saya menyinggung Machete? Karena, film Hobo With A Shotgun ini merupakan pengembangan dari trailer palsu yang menang kontes yang diadakan oleh Quentin Tarantino dan Robert Rodrigues dalam rangka promo Grindhouse.


Hobo With A Shotgun tidak semata menghadirkan adegan – adegan kekerasan yang (sayangnya) menghibur. Ada semacam keresahan akan kondisi yang sedang terjadi serta kepedulian akan sebuah tatanan dunia yang lebih baik, dimana setiap manusia mempunya posisi dan hak yang sama. Di mata saya, lewat Hobo With A Shotgun, Jason Eisener seakan menghadirkan sebuah jaman jahiliyah dalam versinya, dimana The Drake ibarat Fir’un yang super tiran serta sang pengembara tua ibarat Nabi yang berjuang mengenyahkan semua pelaku maksiat, meski harus menjadi martir sekalipun. Meski tidak dibekali kekuatan super, meski sebenarnya keberanian itu merupakan kekuatan super, Sang pengembara tua juga tidak berbeda dengan para vigilante seperti Batman atau Watchmen yang memperjuangkan keadilan dengan caranya sendiri.
Bagi saya, meski Hobo With A Shotgun adalah sebuah film yang :




Ketika membaca judulnya, saya penasaran dengan kata Hobo yang menggiring saya untuk mencarai tahu sama Mbak Wiki (tentu saja!). Dari penjelasan yang ada, seorang hobo itu berbeda dengan gelandangan. Seorang hobo mungkin tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan banyak menghabiskan hidupnya di jalanan, namun seorang hobo itu selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, terutama untuk makan. Bekerja yang benar – benar bekerja ya, bukan semacam pengemis. Jadi, itulah mengapa saya menggunakan kata “pengembara”. Hobo ini ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Untuk lebih lengkapnya bisa di baca di Wiki hehehe…


Yang menarik, Hobo itu ternyata mempunyai semacam kode etik yang wajib dihormati oleh para hobo sehingga keberadaan mereka tidak dipandang miring. Seorang hobo itu harus “Decide your own life, don't let another person run or rule you”. Dalam Hobo With A Shotgun, sang pengembara tua benar – benar sosok independen. Bantuan dari si PSK bukan dia yang meminta dan dia bebas menentukan langkah sepanjang tidak ada pihak yang dirugikan, termasuk keputusan akhir yang dia ambil. Seorang hobo itu selalu mematuhi hokum yang berlaku dan senantiasa bersikap gentle dengan menolak kekerasan yang terjadi pada perempuan, anak – anak atau mereka yang digolongkan dalam LGBT. Hobo selalu menempatkan pelaku kekerasan terhadap anak – anak pada tingkatan rendah alias sampah masyarakat. Anak – anak The Drake yang melakukan aksi pemusnahan anak kecil, pada akhirnya mendapatkan pembalasan yang amat setimpal.


Seorang hobo selalu berusaha mencari pekerjaan, walaupun untuk pekerjaan yang sifatnya temporer. Kalau pekerjaan tidak didapatkan, idealnya seorang hobo mampu menciptakan pekerjaan berdasarkan keahlian yang dia miliki. Cocok dengan si pengembara tua yang berusaha bekerja dan menabung demi mendapatkan mesin pemotong rumput. Seorang hobo yang baik berusaha untuk tidak terjerat alcohol serta peduli dengan lingkungan. Saya tidak ingat si pengembara tua menenggak minuman beralkohol dalam Hobo With A Shotgun, apalagi mengkonsumsi narkoba. Kepedulian hobo terhadap lingkungan terlihat di awal film ketika si pengembara tua mendorong kereta berisi benda – benda yang bisa didaur ulang. Beberapa kode etik hobo yang lain intinya menegaskan seorang hobo itu dituntut untuk mempunyai rasa hormat yang tinggi, tidak hanya terhadap lingkungan dan komunitas yang mereka temui, namun juga sesameahobo agar mereka tidak dipandang rendah. Makanya, kamu tidak boleh memandang rendah film Hobo With A Shotgun ini *disambung – sambungin*

5 comments:

Movfreak mengatakan...

Waah baru tahu ternyata arti"Hobo" itu toh :P
Moga film lain yg berbasis fake trailer itu bisa dirilis lagi

curhatsinema mengatakan...

@movfreak : saya juga baru tau hehehe...dan setelah buka wiki, baru tau juga kalo trailer palsunya ada beberapa. Yup, semoga semuanya juga bisa dibikin film panjang

kendinanti mengatakan...

terimakasih buat review ini karena saya langsung tancap buat nonton juga... hehehe...

Soeby mengatakan...

@kendinanti : sudah baca reviunya. TOSS :)

Anonim mengatakan...

seharusnya mrk bikin juga sequelnya yg brjudul "Homo with Shotgun", yg bercerita ttg seorang gay yg bergentayangan membunuhi para homophobix. hehe. film ini gk lebih bgus dr Beyond Re-Animator.full exploitation. cm bikin eneg.
btw,THX reviewnya bang soeby.

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST