GONZALES THE MOVIE, SEBUAH IDE


Saya bukanlah penggemar bola, namun seperti warga Negara Indonesia lainnya, saya juga ikut larut dalam euphoria kemenangan tim sepak bola nasional di ajang Piala AFF yang semoga berlanjut sampai final nanti. Bukan, bukan karena Irfan Bachdim yang katanya cakep itu, namun saya melihat ada sebuah peningkatan kualitas dari tim sepak bola kita, yang terlihat dari kerja sama tim yang cukup kompak. Kemenangan tim sepak bola Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran Christian Gonzales. Dari berbagai pemberitaan tentang dirinya, saya membayangkan sebuah kisah menarik yang pantas diangkat ke dalam layar lebar.


Sosok Gonzales itu dapat bermain dalam tim nasional melalui proses naturalisasi yang tentunya memancing pro dan kontra, meski dia sudah merumput di Indonesia sekitar satu decade dan kakinya sering meraih predikat tersubur di ajang liga yang ada di Indonesia. Selain itu, Gonzales beristrikan seorang perempuan Indonesia dengan dikaruniai beberapa anak dan seorang mualaf. Tiga hal tersebut menjanjikan sebuah cerita yang penuh dengan pergulatan batin yang menarik. Apa yang dirasakan Gonzales ketika harus mengembara mencari uang meninggalkan keluarganya di Uruguay, bagaimana perjalanan cintanya dengan Eva serta apa reaksi dirinya dan orang – orang di sekitar dia ketika memutuskan masuk Islam pastilah menghadirkan gesekan batin yang tidak ringan. Disinilah cerita bisa diolah sedemikian rupa hingga harapannya bisa menciptakan sebuah kisah yang kaya emosi.


Pergulatan batin Gonzales bisa makin keras ketika banyak pihak yang mencibir kontribusinya terhadap Indonesia. Nasionalismenya dipertanyakan, yang berakibat prestasi tim sepak bola kita dianggap tidaklah sempurna karena kontribusi pemain yang tidak lahir di Indonesia. Hal ini membangkitkan pertanyaan dan pemahaman, lebih Indonesia mana antara Gonzales dengan para koruptor? Pada bagian ini, bisa disandingkan dengan maraknya pemberitaan seputar korupsi di negeri ini. Tidak cukup Indonesia-kah Gonzales bila dibandingkan dengan Gayus misalnya? Reaksi orang – orang terhadap gaya selebrasi Gonzales setelah melesakkan gol ke gawang berupa sujud syukur patut juga di hadirkan buat mempertajam konflik. O iya, peran sang istri pantas juga diangkat, terutama dalam peran pendewasaan karakter dari Gonzales yang dulu terkenal temperamental.


Kisah tentang Gonzales ini tidak diarahkan menuju kisah yang mengkultuskan sosok Gonzales, justru melihat Gonzales sebagai manusia yang hidup di tengah makin dinamisnya pergerakan manusia (globalisasi). Sebagai penguat, sepak bola ditempatkan sebagai satu hal yang membuat Gonzales menjadi dirinya sendiri tanpa harus diembel-embeli kewarganegaraan dan kepercayaan yang dia anut. Sepak bola menjadi ajang Gonzales menjadi manusia bebas. Akhirnya, diharapkan film Gonzales akan menjadi sebuah film yang sangat humanis hingga bisa dilirik festival film internasional yang bergensi. Kalau film lebih menyoroti Gonzales sebagai pahlawan dalam prestasi yang diraih oleh tim sepak bola nasional, hasilnya jusru tidak menarik, klise dan memungkinkan datangnya cibiran.


Kalau film ini bisa terealisasi, rasanya tidak membutuhkan dana yang besar sekali. Inginnya sih Gonzales sendiri yang memerankan dirinya sendiri, namun kalau yang bersangkutan tidak berkenan, bisa memakai seorang actor profesional. Untuk menekan budget, meski bukan diperankan oleh dirinya sendiri, rasanya sah-sah saja kalau kiprah Gonzales di lapangan hijau bisa mengambil footage aksi dia yang telah ada. Kisah dengan banyak pergulatan batin, agar emosinya sampai dengan kuat kepada penonton, ada baiknya film ini diarahkan oleh Rudi Soedjarwo. Gaya hand held cam dia bakal mudah membawa penonton masuk ke dalam atmosfer cerita.
Sugar karya Anna Boden dan Ryan Fleck yang berkisah seputar pemain baseball imigran di Amerika Serikat bisa dijadikan referensi.


MY STRIKER IS A SPY!
Christian Gonzales juga melahirkan ide cerita yang lain di benak saya berkaitan dengan masuknya pemain kelahiran Negara lain yang masuk ke dalam tim nasional. Kali ini saya tidak akan mengkaitkan dengan Gonzales. Hanya terinspirasi. Saya akan menciptakan sebuah tokoh fiksi kebangsaan A yang mencari nafkah dengan menjadi pemain sepak bola di Negara B. Sebut saja namanya XXX. Berkat kualitasnya, XXX dinaturalisasi sehingga menjadi warga Negara B. Kebetulan, XXX mempunyai istri di negera B tersebut. Dan kebetulan juga, XXX mempunyai kontribusi besar dalam prestasi tim olahraga Negara B hingga dielu-elukan di seluruh negeri. Yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah, XXX ini merupakan seorang agen rahasia Negara A.
Konflik muncul ketika istri XXX, yang namanya ZZZ dan seorang jurnalis, mengetahui siapa sebenarnya XXX. Setelah melalui pergulatan batin, ZZZ memutuskan untuk melakukan aksi pembongkaran identitas yang tentu saja disangsikan dan ditertawakan oleh banyak pihak. Terjadi aksi saling selidik yang menegangkan antara XXX dan ZZZ. Bakal lebih seru kalau juga terjadi konflik batin dalam diri XXX. Disatu sisi dia mulai mencintai Negara B, namun disisi lain dia terikat tugas dari Negara A yang dia emban. Dengan genre thriller dengan bumbu romansa, saya membayangkan kisah ini berakhir tragis akibat persilangan aksi antara XXX dan ZZZ. *imajinasi pecinta konspirasi*

Mau filmnya lebih maskulin? Ganti saja sang istri dengan bintang olahraga pribumi yang merasa terancam posisinya oleh kedatangan XXX

0 comments:

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST