AIR DOLL & A LONELY COW WEEPS AT DAWN


AIR DOLL
Dalam pandangan saya, Jepang memang tak ada tandingannya kalau urusan membuat film dengan ide cerita yang ganjil. Air Doll karya Hirokazu Koreeda makin mengukuihkan pandangan saya tersebut. Memanusiakan benda mati mungkin bukan paretama kali ini dilakukan oleh penggiat film. Toy Story dan kisah Pinokio bisa dijadikan contoh. Air Doll mampu tampil beda dan ganjil karena dalam pandangan saya merupakan versi Toy Story maupun Pinokio dalam versi dewasa hehehehe….
Kisah pemanusiaan sebuah barang senantiasa menghadirkan kisah berbau filosofis, begitupun dengan Air Doll. Lewat sebuah boneka pemuas nafsu, kita dihadapkan pada cerita seputar rasa sepi yang menyeliputi kaum urban. Rasa sepi yang disebabkan kegagalan berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu yang lain. Manusia satu dengan manusia yang lain semakin kesulitan untuk saling terhubung, padahal manusia – manusia itu diharapkan untuk saling mengisi agar menjadi seorang manusia yang utuh. Manusia yang mempunyai hati. Namun yang terjadi justru sebaliknya, hati seringkali terkikis oleh rasa sakit. Akibatnya, ada sebagian orang yang lebih mudah terhubung dengan benda mati, karena benda mati tak mempunyai hati makanya tak bisa menyakiti. Orang yang terlalu terikat dengan barang, biasanya memendam rasa sepi. Namun apakah hati yang sunyi mampu terobati oleh benda mati?


Rasa sepi ini kemudian menggiring kita pada sebuah pertanyaan besar tentang makna hidup. Disinilah Hirokazu Koreeda seakan berusaha menyentakkan kesadaran kita yang justru membuat saya bingung dengan maksud dari Hirokazu Koreeda. Ketika pada awalnya kita dituntun untuk memanusiakan benda mati, pada paruh akhir kita disuguhi kenyataan berkaitan hakekat dari sebuah boneka pemuas nafsu. Kehadiran benda tersebut dimaksudkan sebagai pengganti, bukan pemeran utama kehidupan. Yang namanya pengganti, hanya berguna kalau yang utama tidak atau belum bisa digunakan. Hal ini kembali menggiring kita ke titik awal pemahaman, yakni boneka pemuas nafsu itu bukan manusia, hanya seonggok barang yang bisa kita buang ketika sudah tidak berguna lagi.



A LONELY COW WEEPS AT DAWN
Dalam memilih film yang akan ditonton saya seringkali tidak membaca sinopsisnya terlebih dahulu. Bahkan, terkadang saya tertarik akan sebuah film hanya dikarenakan judulnya yang terlihat menggoda. Ketika memutuskan menyaksikan A Lonely Cow Weeps at Dawn, terus terang saya tertarik dengan judulnya yang terkesan puitis bagi saya. Ternyata oh ternyata….film ini berkisah tentang proses penyembuhan luka akan kehilangan orang yang kita sayangi. Namun, jangan mengharapkan sebuah tontonan dengan kisah linear yang mendayu – dayu layaknya Departure misalnya. Sutradara Daisuke Goto justru menyajikan A Lonely Cow Weeps at Dawn dengan rangkaian adegan aneh dan ganjil serta cabul layaknya film sinting produk Jepang. Judulnya yang puitis bagi saya tidak tercermin sama sekali dalam filmnya. Tapi judulnya memang tidak menipu kok, ada “sapi” dalam film yang durasinya hanya satu jam ini.

 

BLOG LIST

BLOG LIST

BLOG LIST